Hikmah dalam Sebuah perjalanan...
Dalam sebuah perjalanan panjang ini,kita selalu menemukan ujian-ujian yang sebelumnya tak pernah kita jumpai. dari ujian nan besar sampai ujian nan ringan, Ujian yang datang begitu saja disaat hati ini kuat ataupun lemah,dia datang tanpa diketahui oleh siapapun kecuali DIA yang maha mengetahui. Sungguh hati ini tak kuasa menahannya disaat lemahnya iman,tapi kembali teringat pesan cinta sang Ilahi "Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dangan kesanggupannya..,"(QS:Al-Baqarah 286). Saat teringat ini mulailah perlahan hati ini bangkit,Iman ini menjadi kuat ,sekuat angin yang membawa air laut ke tepian, namun seiring berjalannya waktu barulah tersadar DIA memberikan hikmahNya yang begitu besar dari peristiwa-peristiwa tersebut DIA mengajarkan banyak arti yang selama ini tak kuketahui. Sungguh ku terdiam tanpa kata akan KuasaNya.."Semoga Allah selalu memberikanku Pelajaran akan hikmah dari setiap kejadian" Aamiin..
Hikmah Shubuh
Khulafaurrosyidin
15.54 | Label: Hikmah | 0 Comments
♥♥♥ Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥
Tak mudah menjadi lelaki sejantan Salman. Tak mudah menjadi sahabat
setulus Abud Darda’. Dan tak mudah menjadi wanita sejujur shahabiyah
yang kelak kita kenal sebagai Ummud Darda’. Belajar menjadi mereka
adalah proses belajar untuk menjadi orang yang benar dalam menata dan
mengelola hati. Lalu merekapun bercahaya dalam pentas sejarah.Begitulah. Selamat menyambut kawan sejati, sepenuh cinta.
01.56 | Label: Sirah | 0 Comments
TIGA TUGAS MANUSIA
Bila semua yang dilakukan kita niatkan sebagai ibadah; sebagai sarana meraih ridha Allah, pasti hidup kita akan tenang.
Saudaraku,
satu hal penting dalam hidup adalah memiliki tujuan.
Kita harus bisa menjawab: untuk apa kita hidup dan apa yang harus kita lakukan untuk mengisinya.
Memahami secara benar tujuan hidup, akan membuat semua yang kita lakukan lebih terarah, terfokus dan kita pun bisa terhindar dari perbuatan sia-sia.
Kita harus bisa menjawab: untuk apa kita hidup dan apa yang harus kita lakukan untuk mengisinya.
Memahami secara benar tujuan hidup, akan membuat semua yang kita lakukan lebih terarah, terfokus dan kita pun bisa terhindar dari perbuatan sia-sia.
Orang yang memiliki tujuan, walau lambat jalannya, jauh lebih baik dari orang yang melakukan percepatan tapi tidak memiliki tujuan.
Walau lambat, asal istikamah melangkah, insya Allah ia akan sampai ke tempat tujuan.
Setidaknya ada tiga tugas utama yang menanti kita, dan ke sanalah tujuan hidup kita arahkan.
Tugas pertama adalah beribadah kepada Allah SWT.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku,"
demikian firman Allah dalam QS Adz Dzaariyat [51] ayat 56.
Jadi, kita adalah hamba Allah. Kita harus yakin tiada penguasa yang kekal abadi selain Allah.
Kita harus yakin bahwa semua yang ada di dunia ini seratus persen ada dalam genggaman Allah. Juga, semua yang terjadi mutlak atas izin Allah. Hikmahnya, kita tidak boleh menjadi hamba apa pun, selain menjadi hamba Allah.
demikian firman Allah dalam QS Adz Dzaariyat [51] ayat 56.
Jadi, kita adalah hamba Allah. Kita harus yakin tiada penguasa yang kekal abadi selain Allah.
Kita harus yakin bahwa semua yang ada di dunia ini seratus persen ada dalam genggaman Allah. Juga, semua yang terjadi mutlak atas izin Allah. Hikmahnya, kita tidak boleh menjadi hamba apa pun, selain menjadi hamba Allah.
Saudaraku,
bila
semua yang dilakukan kita niatkan sebagai ibadah; sebagai sarana
meraih ridha Allah, pasti hidup kita akan tenang. Jaminan Allah tidak
akan tertukar. Masalahnya, sudah ikhlas atau belum niat kita; sudah
benar atau belum ikhtiar kita?
Kedua, tugas sebagai khalifah.
Kedua, tugas sebagai khalifah.
Allah Yang Mahamulia menjadikan kita sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi.
Maka, jangan pernah terbetik dalam pikiran untuk menyia-nyiakan amanah besar ini.
Maka, jangan pernah terbetik dalam pikiran untuk menyia-nyiakan amanah besar ini.
Jangan pernah terpikir untuk bertindak setengah-setengah, delapan puluh persen, atau sembilan puluh persen.
Lakukanlah seratus persen. Lakukan secara maksimal, agar hasil yang kita dapatkan maksimal pula.
Lakukanlah seratus persen. Lakukan secara maksimal, agar hasil yang kita dapatkan maksimal pula.
Saudaraku,
hidup hanya sekali. Maka lakukanlah yang terbaik, agar saat kematian kelak, kita tengah berada di puncak prestasi.
Boleh jadi inilah rahasia mengapa Allah merahasiakan kematian kita.
Tujuannya tidak lain agar kita bersungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik kapan pun dan di mana pun.
Boleh jadi inilah rahasia mengapa Allah merahasiakan kematian kita.
Tujuannya tidak lain agar kita bersungguh-sungguh dan melakukan yang terbaik kapan pun dan di mana pun.
Kita harus maksimal dalam bekerja agar mendapatkan uang banyak.
Kiat pun harus maksimal dalam belajar agar menjadi pintar.
Tentu, semuanya bukan untuk memperkaya dan memintarkan diri, kita mampu mensejahterakan dan memintarkan orang lain.
Kita cukup menjadi perantara saja. Jadilah manusia terbaik. Yaitu manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.
Ketiga, tugas untuk berdakwah.
Saudaraku, di mana pun kita ada, kita harus berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam.
Tentu, cara dakwah kita harus sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah SAW.
Setidaknya ada dua formula dakwah yang bisa kita terapkan, yaitu :
1. Menjadi bukti keindahan Islam. Akhlak kita harus mencerminkan nilai-nilai Islam, mulai dari cara makan, bergaul, berkata, bersikap, berkeluarga, hingga berpolitik harus bisa mencerminkan indahnya Islam.
2. Dakwah yang kita lakukan bukan untuk menghakimi, tapi untuk membantu; membantu orang yang tidak paham, menjadi paham Islam; membantu orang yang lupa menjadi ingat; membantu orang bodoh menjadi pintar; membantu orang lalai menjadi sungguh-sungguh, dst.
Tugas kita hanyalah memberi peringatan.
22.30 | | 0 Comments
Langganan:
Komentar (Atom)



